Diberdayakan oleh Blogger.

TANAH WEST PAPUA

NASIONAL & INTERNASIONAL

PENDIDIKAN & KESEHATAN

SENI BUDAYA

» » » » HUBERTUS ITU REVOLUSIONER KNPB YANG NASIONALIS

Hubertus Mabel mengenakan Army Uniform (Jubi/Mawel)
Hubertus Mabel mengenakan Army Uniform (Jubi/Mawel)
Jayapura, Jubi – “Perebutan sejarah, mengisahkan cerita masa silam kami dan mengklaim kembali masa lalu. Memberi kesaksian atas nama masa lalu dan membuat strategi untuk memperjuangkan keadilan,” tulis Linda Tuhiwai Smith, antropolog asal New Zealand dalam bukunya Dekolonisasi Metologi.

Mengenang Hubertus Mawel

Masa lalu perjuangan aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pusat, Hubertus Mabel yang tewas pada 16 Desember 2012 tidak dilupakan begitu saja. Aktivis KNPB pusat merayakan tiga tahun kematian Mawel di Markas Militan KNPB Pusat, Waena, Kota Jayapura, Papua, dihadiri para perintis KNPB, rekan dan kader KNPB. Mereka yanng hadir di Markas Militan KNPB pada 16 Desember 2015, memberikan kesaksian soal siapa itu Hubertus Mabel.
Kata mereka, Mabel berasal dari tempat di mana dia ditembak, Milima, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Waktu lahirnya belum diketahui. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya kemudian melanjutkan kuliah di Manado, Sulawesi Utara. Kata rekannya, dia salah satu yang memimpin eksodus mahasiswa Papua, bersama Buchtar Tabuni, Mako Tabuni, Sebby Sambom, Patris Wenda dan Victor Yeimo pada 2008. Kemudian, ia adalah Komandan militan pertama KNPB Pusat yang ikut serta mendirikan KNPB pada 19 November 2008 di Post 7 Sentani, Kabupaten Jayapura, setelah melakukan exsodus Mahasiswa Papua itu. Kata mereka, Mabel mengkomandoi gerakan-gerakan militansi KNPB 2008 hingga 2012. Gerakan-gerakan militansi itu terlihat dari gerakan perlawanan KNPB yang tumbuh subur di kota-kota di Papua.
Foto Hubertus berdiri memegang note book ada di samping bendera KNPB di Markas Pusat KNPB (Dok KNPB)
Foto Hubertus berdiri memegang note book ada di samping bendera KNPB di Markas Pusat KNPB (Dok KNPB)

Penuh Konsentrasi

Kata mereka, ketika ada aksi, Mabel tidak pernah nampak di lapangan. Ia menjadi bagian dari lapisan luar masa aksi. Kadang-kadang, ketika situasi menuntut, dia berada di depan masa aksi. Dari persembunyiannya itu, perhatian, kosentrasinya fokus pada membangun gerakan militant tanpa menyerah di lapangan. Ia akan mengontrol setiap anggota militannya kawal masa aksi demo dari mana ke mana. Berhadapan dengan siapa, ada bahaya atau tidak. Ia melakukan itu dengan serius, walaupun ada berbarengan dengan lelucon namun tidak sembarang lelucon. Kata mereka, perjalanan panjang yang berani, tanpa lelah yang Mabel lalui adalah upayanya penyatuan militer Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Ia tidak capek-capeknya masuk keluar hutan, naik turun gunung, menyeberangi kali dan sungai mendatangi sejumlah Markas Militer OPM dan melakukan dialog dengan sejumlah pimpinan OPM. Hasil dari perjalanan itu, kata mereka, Mabel berhasil membangun satu kekuatan OPM yang utuh di hutan. Konfrensi Tingkat Tinggi TPN-OPM pun di gelar di Biak pada 2012, mengangkat Goliat Tabuni sebagai Pangglima Tertinggi OPM dengan pangkat Jenderal. Upayanya ternyata sampai disitu. Ia tidak dapat meneruskan agendanya. Ia harus berhenti ditangan musuh yang benci dengan gerakan itu. Pembunuhan dirinya turut membunuh gerakan militant KNPB. KNPB tidak seperti dulu lagi. Gerakan KNPB mulai redup, maju mundur diperhitungkan di tangan aktivis militant KNPB. Orang luar, peneliti, bahkan publik pun membaca redupnya gerakan KNPB, pasca pembunuhan Mako Tabuni dan Hubertus Mawel. Rupanya pemerintah Indonesia berhasil menghentikan sementara militansi KNPB atau berhenti untuk selamanya. Yang jelas, gerakan KNPB jalan di tempat.

Apakah KNPB Telah Kehilangan Rohnya?

“Gerakan KNPB ini gelombang kecil di tegah masa. Gerakannya, orasi-orasi politiknya tidak berkembang, jalan di tempat, sama seperti dua tiga tahun lalu,” ungkap seorang antropolog yang sedang melakukan penelitian di Jayapura saat melihat dan mendengar pidato aktivis KNPB saat HUT KNPB ke-7 di Expo, Waena, Jayapura, Papua.
Aktivis KNPB juga merasakan itu. Mereka menyadari kalau kematian Hubertus membawa pergi roh militant KNPB. Karena itu, mereka masih menantikan kehadiran komandan militant, paling kurang menyamai Hubertus untuk membangkitkan KNPB yang sedang tidur.
“Hubertus sudah menanamkan semangat ini. Kami masih mencari Hubert-Hubert yang lain. Kami harap tahun 2016 ada Hubert baru yang bangkit memimpin militansi KNPB,” harap Logo Nugama.
“Ia berani, jujur, sosialis dan Nasionalis,” ungkap Alua dan Meaga ketika memberikan kesaksian tentang sosok Mabel yang memegang pangkat Mayor Jenderal ini.
Keberanian itu ditunjukan selama masa hidup memimpin militant KNPB. Ia tidak pernah menyamar, mundur dan lari dari jalan hidup dan agenda pembebasan bangsa yang di pilihnya. Ia selalu menunjukan diri seorang militant yang utuh. Ia tidak pernah takut kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Karena itu, ia selalu mengatakan diri “Hubertus Mabel” yang ada dalam barisan perjuangan. Karena dia selalu siap menghadapi musuh, termasuk kematian dirinya.
“Ia tidak pernah sembunyi-sembunyi. Ia selalu katakan “ya, Saya Hubertus”. Bahkan ia katakan itu detik-detik pembunuhannya. “Ya, saya yang kamu cari!!,” ucap mereka mengingat ungkapan Mabel kepada polisi yang menembaknya.
Karena semangat nasionalisme yang bercampur keberanian yang utuh, ketika dicari, Mabel tidak pernah memikirkan dirinya, mau menyelamatkan diri lari keluar negeri, paling kurang lari ke PNG sama seperti aktivis lain. Ia tidak pernah mau lari walaupun ada yang mengupayakan pelariannya ke negara tetangga.
“Saya tidak akan pernah tinggalkan negeri saya. Saya ini darah sisa perjuangan, lahir di sini dan akan mati pun di sini,” begitu ungkapnya ketika ditawari keluarga mencari suaka politik ke luar negeri.
Kata rekan-rekannya, Mabel megedepankan kepentingan nasional daripada kelompok marga, suku dan wilayah. Ia tidak pernah membedakan sesama aktivitas, asal usul selagi itu menjadi kawan dalam agenda perjuangan pembebasan bangsa.
“Ia selalu mengatakan kepentingan nasiona. Ia itu berjiwa nasionalis murni,bukan sukuisme”ungkap Logo.

Pesan Sang Nasionalis

Ia yang tidak banyak bicara, banyak kerja dan banyak berfikir itu meninggalkan pesan-pesan singkat yang tidak pernah dilupakan. Rekaman suaranya yang ditembak mati 3 tahun lalu itu masih di dengar dengan jelas. Ia selalu berpesan kepada anggotanya jangan pernah mengeluh kekurangan dalam perlawanan, terlebih ketika seorang diri. Ketika menjadi seorang diri, ia selalu mengajak berfikir memanfaatkan seluruh anggota tubuh menjadi kekuatan.
“Jangan pernah berfikir saya tidak ada, saya sendiri, lakukan yang anda bisa lakukan dan manfaatkan kebijaksaan yang Tuhan berikan kepada setiap pribadi yang normal,” tegas Mawel dalam rekaman itu.
Kalau ada satu atau dua orang, kata Mawel, malah itu kekuatan revolusi yang sangat besar. Kekuatan itu akan terbangun kalau ada penyatuan dalam satu langkah dan agenda revolusi. Kekuatan yang sedikit itu akan sangat lemah dan dan akan hancur kalau tidak menyatu.
“Perjangan ini perjuangan bersama-sama. Kita sama-sama melakukan perlawanan walaupun kekuatan kita hanya lima atau kurang dari itu. Kalau kita tahu taktik mainya, kita akan menang,” pesan Mabel yang diputar dalam rekaman dalam durasi 5 menit lebih itu menjadi bagian “sejarah yang harus kita rebut” melalui penulisan dan pembacaab kembali. (Mawel Benny)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
This is the last post.

About the Author Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Tidak ada komentar

Leave a Reply

VIDEO

FEATURE

MAHASISWA

POLHUKAM

ARTIKEL & OPINI